Hai ladies.. pernah ga sih kalian ngerasa nyeri perut gak karuan saat lagi mens? Mungkin banyak dari kalian yang mengalami hal tersebut bukan?
Kejadian nyeri haid banyak terjadi pada remaja. Nyeri haid memiliki dampak tinggi pada kehidupan wanita diantaranya mengakibatkan pembatasan kegiatan sehari-hari, menurunkan kinerja akademik remaja, kualitas tidur yang buruk dan kecemasan suasana hati bahkan bisa menyebabkan depresi.
Dalam dunia kedokteran, nyeri haid disebut dengan dismenore. Dismenore itu sendiri dibedakan menjadi dua jenis yaitu dismenore primer dan dismenore sekunder.
- Dismenore Primer yaitu keadaan nyeri haid tanpa adanya suatu penyakit yang mendasari. Maksutnya keadaan ini normal terjadi karena proses menstruasi dari tubuh itu sendiri.
- Dismenore Sekunder yaitu keadaan nyeri haid yang dikaitkan dengan penyakit tertentu seperti gangguan pada rahim atau pelvis. Penyebab paling umum dari dismenorea sekunder pada wanita muda adalah endometriosis dan adenomiosis
Lalu bagaimana membedakan dismenore primer dan sekunder??
Dismenore primer biasanya terjadi 6 sampai 12 bulan setelah menarche (awal pertama kali haid). Nyeri khasnya tajam dan terputus-putus, terletak di daerah suprapubik, dan berkembang dalam beberapa jam dari awal menstruasi. Nyeri haid dapat dikaitkan dengan gejala sistemik, seperti mual, muntah, diare, kelelahan, demam, sakit kepala, dan insomnia.
Sedangkan dismenore sekunder biasanya terjadi setelah usia 25 tahun dan belangsung selama siklus pertama atau kedua setelah siklus haid pertama. Gejala dismenore sekunder yaitu darah keluar dalam jumlah banyak dan kadang tak beraturan, nyeri saat berhubungan seksual, nyeri perut bagian bawah diluar waktu mens, nyeri tekan pada panggul, ada cairan yang keluar dari vagina, teraba adanya benjolan pada bagian panggul. Nyeri haid hebat bisa menjadi tanda gejala endometriosis yang bisa mengakibatkan sulitnya punya keturunan.
Penasaran ga sih gimana nyeri haid ini bisa terjadi? Penjelasannya sebagai berikutt
Saat menstruasi otot-otot rahim terangsang untuk berkontraksi. Tujuan kontraksi tersebut yaitu untuk mengurangi aliran darah ke otot-otot rahim. Akibat berkurangnya aliran darah ke otot-otor rahim, rahim berusaha untuk memenuhi kebutuhannya akan aliran darah yang lancar. Rahim akan merangsang ujung-ujung syaraf yang mengakibatkan rasa nyeri. Nyeri tersebut tidak hanya terasa di rahim, namun juga terasa di bagian-bagian tubuh lain yang mendapatkan persyarafan yang sama dengan rahim. Oleh karna itulah maka rasa tidak nyaman juga dirasakan di bagian-bagian tubuh yang digunakan untuk buang air besar, buang air kecil, maupun otot-otot dasar panggul dan daerah di sekitar tulang belakang sebelah bawah.
Selain itu faktor lain yang menyebabkan nyeri haid yaitu adanya peningatan kadar prostaglandin (PG). Wanita yang menderita dismenore primer memiliki PG alfa sangat tinggi dalam lapisan rahim dan darah haid. PG menyebabkan peningkatan aktivitas rahim dan serabut-serabut syaraf rangsang nyeri. Kombinasi antara peningkatan kadar PG dan peningkatan kepekaan rahim menimbulkan tekanan infra uterus sampai 400 mm Hg dan menyebabkan kontraksi miometrium (dinding rahim) yang hebat. Kontraksi miometrium yang disebabkan oleh PG inilah yang akan mengurangi aliran darah (seperti yg telah dijelaskan diatas), sehingga terjadi iskemia (kekurangan suplai darah) sel-sel nyeri yang mengakibatkan timbulnya nyeri spasmodik. Jika PG dilepaskan dalam jumlah berlebihan ke dalam peredaran darah, maka selain dismenore timbul pula pengaruh umum lainnya seperti diare, mual, muntah (Genie, 2009) Nyeri haid berulang dikaitkan dengan modifikasi struktural dan fungsional sistem saraf pusat. Dismenore dapat menyebabkan konsekuensi jangka panjang yang penting dan dapat meningkatkan kerentanan wanita terhadap kondisi nyeri kronis lainnya di kemudian hari, maka wajib untuk mengobati nyeri haid untuk membatasi input berbahaya ke dalam sistem saraf pusat.
Adapun penanganan yang dapat digunakan para remaja untuk mengurangi dismenorea adalah dengan cara farmakologis dan non farmakologis.
Terapi farmakologis dengan obat penghambat sintesis prostaglandin, tetapi obat tersebut dapat menimbulkan efek samping dari penggunaan berupa iritasi mukosa lambung dan resiko tukak lambung, pada penggunaan lama atau dalam dosis tinggi terjadi kerusakan darah, kerusakan hati dan ginjal. Oleh karena itu cara nonfarmakologis dapat dilakukan dengan manajemen stres, istirahat cukup dan olah raga teratur (Baziad, 2008). Diet vegetarian rendah lemak dan minyak ikan suplemen telah dilaporkan dapat mengurangi nyeri haid pada beberapa perempuan. Menghindari minum kopi dan merokok juga disarankan untuk memperkecil resiko terjadinya dismenore.
Namun jangan menyepelekan nyeri haid ya ladies.. Apabila sudah ada tanda-tanda nyeri haid hebat atau muncul gejala seperti yang telah disebutkan tadi, segera konsultasikan dengan tenaga medis atau periksakan diri ke dokter.
Sumber:
Banikarim C, Chacko MR, Kelder SH: Prevalence and impact of dysmenorrhea on Hispanic female adolescents. Arch Pediatr Adolesc Med. 2000
Baziad, A. (2008). Endokrinologi ginekologi, edisi ke-3. Jakarta: Media Aesculapius Kedokteran Universitas Indonesia.
Brawn J, Morotti M, Zondervan KT, et al. : Central changes associated with chronic pelvic pain and endometriosis. Hum Reprod Update. 2014
Chantler I, Mitchell D, Fuller A: Actigraphy quantifies reduced voluntary physical activity in women with primary dysmenorrhea. J Pain. 2009
Dorn LD, Negriff S, Huang B, et al. : Menstrual symptoms in adolescent girls: association with smoking, depressive symptoms, and anxiety. J Adolesc Health. 2009
Genie, 2009, Kurangi Nyeri Haid dengan Terapi Energi Cair lewat http://m.okezone.com
Hailemeskel S, Demissie A, Assefa N: Primary dysmenorrhea magnitude, associated risk factors, and its effect on academic performance: evidence from female university students in Ethiopia. Int J Womens Health. 2016
Iacovides S, Avidon I, Baker FC: What we know about primary dysmenorrhea today: a critical review. Hum Reprod Update. 2015
Unsal A, Ayranci U, Tozun M, et al. : Prevalence of dysmenorrhea and its effect on quality of life among a group of female university students. Ups J Med Sci. 2010